Belajar Otomotif Online

Hanya situs lain dari WordPress

Sistem Pengapian (Ignition System) Sepeda Motor

A. PENDAHULUAN
Sistem pengapian pada motor bensin berfungsi mengatur proses
pembakaran campuran bensin dan udara di dalam silinder sesuai waktu
yang sudah ditentukan yaitu pada akhir langkah kompresi. Permulaan
pembakaran diperlukan karena, pada motor bensin pembakaran tidak
bisa terjadi dengan sendirinya. Pembakaran campuran bensin-udara
yang dikompresikan terjadi di dalam silinder setelah busi memercikkan
bunga api, sehingga diperoleh tenaga akibat pemuaian gas (eksplosif)
hasil pembakaran, mendorong piston ke TMB menjadi langkah usaha.
Agar busi dapat memercikkan bunga api, maka diperlukan suatu sistem
yang bekerja secara akurat. Sistem pengapian terdiri dari berbagai
komponen, yang bekerja bersama-sama dalam waktu yang sangat cepat
dan singkat.

B. SYARAT-SYARAT SISTEM PENGAPIAN
Ketiga kondisi di bawah ini adalah merupakan syarat penting yang
harus dimiliki oleh motor bensin, agar mesin dapat bekerja dengan efisien
yaitu:
1.  Tekanan kompresi yang tinggi.
2.  Saat pengapian yang tepat dan percikan bunga api yang kuat.
3.  Perbandingan campuran bensin dan udara yang tepat.
Agar sistem pengapian bisa berfungsi secara optimal, maka
sistem pengapian harus memiliki kriteria seperti di bawah ini:
1.   Percikan Bunga Api Harus Kuat
Pada saat campuran bensin-udara dikompresi di dalam silinder,
maka kesulitan utama yang terjadi adalah  bunga api meloncat di antara
celah elektroda busi sangat sulit, hal ini disebabkan udara merupakan
tahanan listrik dan tahanannya akan naik pada saat dikompresikan.
Tegangan listrik yang diperlukan harus cukup tinggi, sehingga dapat
membangkitkan bunga api yang kuat di antara celah elektroda busi.
Terjadinya percikan bunga api yang kuat antara lain dipengaruhi
oleh pembentukan tegangan induksi yang dihasilkan oleh sistem
pengapian. Semakin tinggi tegangan yang dihasilkan, maka bunga api
yang dihasilkan bisa semakin kuat. Penjelasan lebih jauh tentang
pembentukan tegangan induksi yang baik dibahas pada bagian E sampai
H (koil pengapian sampai busi). Namun secara garis besar agar diperoleh
tegangan induksi yang baik dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini:
a.  Pemakaian koil pengapian yang sesuai
b.  Pemakaian kondensor yang tepat
c.  Penyetelan saat pengapian yang sesuai
d.  Penyetelan celah busi yang tepat
e.  Pemakaian tingkat panas busi yang tepat
f.  Pemakaian kabel tegangan yang tepat
2.  Saat Pengapian Harus Tepat
Untuk memperoleh pembakaran, maka campuran bensin-udara
yang paling tepat, maka saat pengapian harus sesuai dan tidak statis
pada titik tertentu, saat pengapian harus dapat berubah mengikuti
berbagai perubahan kondisi operasional mesin.
Saat Pengapian (Ignition Timing)
Saat pengapian dari campuran bensin dan udara adalah saat
terjadinya percikan bunga api busi beberapa derajat sebelum Titik Mati
Atas (TMA) pada akhir langkah kompresi. Saat terjadinya percikan
waktunya harus ditentukan dengan tepat supaya dapat membakar
dengan sempurna campuran bensin dan udara agar dicapai energi
maksimum.









Setelah campuran bahan bakar dibakar oleh bunga api, maka
diperlukan waktu tertentu bagi api untuk merambat di dalam ruangan
bakar. Oleh sebab itu akan terjadi sedikit keterlambatan antara awal
pembakaran dengan pencapaian tekanan pembakaran maksimum.
Dengan demikian, agar diperoleh output maksimum pada engine dengan
tekanan pembakaran mencapai titik tertinggi (sekitar 100
setelah TMA),
periode perambatan api harus diperhitungkan pada saat menentukan
saat pengapian (ignition timing).
Karena diperlukannya waktu untuk perambatan api, maka
campuran bahan bakar – udara harus sudah dibakar sebelum TMA. Saat
mulai terjadinya pembakaran campuran bahan bakar dan udara tersebut
disebut dengan saat pengapian (ignition timing). Agar saat pengapian
dapat disesuaikan dengan kecepatan, beban mesin dan lainnya
diperlukan peralatan untuk merubah (memajukan atau memundurkan)
saat pengapian. Salah satu diantaranya adalah dengan menggunakan
vacuum advancer dan governor advancer untuk pengapian konvensional.
Dalam sepeda motor biasanya disebut dengan unit pengatur saat
pengapian otomatis atau ATU (Automatic Timing Unit). ATU akan
mengatur pemajuan saat pengapian. Pada sepeda motor dengan sistem
pengapian konvensional (menggunakan platina) ATU diatur secara
mekanik sedangkan pada sistem pengapian elektronik ATU diatur secara
elektronik. Penjelasan lebih jauh tentang ATU dibahas  pada bagian I
(Tipe Sistem Pengapian Pada Sepeda Motor).
Bila saat pengapian dimajukan terlalu jauh (lihat gambar 4.2 titik
A) maka tekanan pembakaran maksimum akan tercapai sebelum 100
sesudah TMA. Karena tekanan di dalam silinder akan menjadi lebih tinggi
dari pada pembakaran dengan waktu yang tepat, pembakaran campuran
udara bahan bakar yang spontan akan terjadi dan akhirnya akan terjadi
knocking atau detonasi.







Knocking merupakan ledakan yang menghasilkan gelombang
kejutan berupa suara ketukan  karena naiknya tekanan yang besar dan
kuat yang terjadi pada akhir pembakaran. Knocking yang berlebihan akan
mengakibatkan katup, busi dan torak terbakar. Saat pengapian yang
terlalu maju juga bisa menyebabkan suhu mesin menjadi terlalu tinggi.
Sedangkan bila saat pengapian  dimundurkan terlalu jauh (lihat
gambar 4.2 titik C)  maka tekanan pembakaran maksimum akan terjadi
setelah 100
 setelah TMA (saat dimana torak telah turun cukup jauh). Bila
dibandingkan dengan pengapian yang waktunya tepat (gambar 4.2 titik
B), maka tekanan di dalam silinder agak rendah sehingga output mesin
menurun, dan masalah pemborosan bahan bakar dan lainnya akan
terjadi. Saat pengapian yang tepat dapat menghasilkan tekanan
pembakaran yang optimal.
3.  Sistem Pengapian Harus Kuat dan Tahan
Sisem pengapian harus kuat dan tahan terhadap perubahan yang
terjadi setiap saat pada ruang mesin atau perubahan kondisi operasional
kendaraan; harus tahan terhadap getaran, panas, atau tahan terhadap
tegangan tinggi yang dibangkitkan oleh sistem pengapian itu sendiri.
Komponen-komponen sistem pengapian seperti koil pengapian,
kondensor, kabel busi (kabel tegangan tinggi) dan  busi harus dibuat
sedemikan rupa sehingga tahan pada berbagai kondisi. Misalnya dengan
naiknya suhu di sekitar mesin, busi harus tetap tahan (tidak meleleh) agar
bisa terus memberikan loncatan bunga api yang baik. Oleh karena itu,
pemilihan tipe busi harus benar-benar tepat.
Begitu pula dengan koil pengapian maupun kabel busi, walaupun
terjadi perubahan suhu yang cukup tinggi (misalnya karena mesin bekerja
pada putaran tinggi yang cukup lama), komponen tersebut harus mampu
menghasilkan dan menyalurkan tegangan tinggi (induksi) yang cukup.
Pemilihan tipe koil hendaknya tepat sesuai kondisi operasional sepeda
motor yang digunakan.
C. SUMBER TEGANGAN TINGGI PADA SEPEDA MOTOR
Untuk menjamin tersedianya tegangan pengapian yang tetap
tinggi maka diperlukan sistem yang akurat. Sistem pengapian tegangan
tinggi menghasilkan percikan bunga api di busi. Sumber tegangan pada
sepeda motor dapat berasal dari:
1.  Pengapian Langsung
Bentuk yang paling sederhana sumber tegangan pengapian
adalah dengan menyediakan source coil (koil sumber pengapian) yang
tergabung langsung dengan generator utama (alternator atau flywheel
magneto). Keuntungannya adalah sumber tegangan tidak dipengaruhi
oleh beban sistem kelistrikan mesin. Sedangkan kekurangannya adalah
pada kecepatan mesin rendah, seperti pada saat menghidupkan
(starting) mesin, tegangan yang keluar dari koil sumber berkemungkinan
tidak cukup untuk menghasilkan percikan yang kuat.
Arus listrik yang dihasilkan oleh alternator atau  flywheel magneto
adalah arus listrik AC (Alternating Currrent). Prinsip kerja alternator dan
flywheel magneto sebenarnya adalah sama, perbedaannya hanyalah
terletak pada penempatan atau konstruksi magnetnya. Pada  flywheel
magneto bagian magnet ditempatkan di sebelah luar spool (kumparan).
Magnet tersebut berputar untuk membangkitkan listrik pada spool
(kumparan) dan juga sebagai roda gila (flywheel) agar putaran poros
engkol tidak mudah berhenti atau berat. Sedangkan pada alternator
magnet ditempatkan di bagian dalam spool (kumparan). Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada gambar 4.3 berikut :






Pembangkit listrik AC pada sepeda motor baik model alternator
ataupun model flywheel magneto terdiri dari beberapa buah kumparan
kawat yang berbeda-beda jumlah lilitannya sesuai dengan fungsinya
masing-masing, dan akan menghasilkan arus listrik apabila ada kutub-
kutub magnet yang mempengaruhi kumparan tersebut. Kutub ini didapat
dari rotor magnet yang ditempatkan pada poros engkol, dan biasanya
dilengkapi dengan empat atau enam buah magnet permanen dan arus
listrik AC yang dihasilkan dapat berubah-ubah sekitar 50 kali per detik (50
cycle per second)
2.  Pengapian Baterai
Selain dari sumber tegangan langsung di atas terdapat juga
sumber tegangan alternatif dari sistem kelistrikan utama. Sistem ini
biasanya terdapat pada mesin yang mempunyai sistem kelistrikan di
mana baterai sebagai sumber tegangan sehingga mesin tidak dapat
dihidupkan tanpa baterai. Hampir semua baterai menyediakan arus listrik
tegangan rendah (12 V) untuk sistem pengapian.
Dengan sumber tegangan baterai akan terhindar kemungkinan
terjadi masalah dalam menghidupkan awal mesin, selama baterai,
rangkaian dan komponen sistem pengapian lainnya dalam kondisi baik.
Arus listrik DC (Direct Current) dihasilkan dari baterai
(Accumulator). Baterai tidak dapat menciptakan arus listrik, tetapi dapat
menyimpan arus listrik melalui proses kimia. Pada umumnya baterai yang
digunakan pada sepeda motor ada dua jenis sesuai dengan kapasitasnya
yaitu baterai 6 volt dan baterai 12 volt.
Di dalam baterai terdapat sel-sel yang jumlahnya tergantung pada
kapasitas baterai itu sendiri, untuk baterai 6 volt mempunyai tiga buah sel
sedangkan baterai 12 volt mempunyai enam buah sel yang berhubungan
secara seri dan untuk setiap sel baterai menghasilkan tegangan kurang
lebih sebesar 2,1 volt. Sementara untuk setiap sel terdiri dari dua buah
pelat yaitu pelat positif dan pelat negatif yang terbuat dari timbal atau
timah hitam (Pb). Pelat-pelat tersebut disusun bersebelahan dan diantara
pelat dipasang pemisah (Separator) sejenis bahan non konduktor dengan
jumlah pelat negatif lebih banyak dibandingkan dengan pelat positif untuk
setiap sel baterainya.








Pelat-pelat ini direndam dalam cairan elektrolit (H2SO4). Akibat
terjadinya reaksi kimia antara pelat baterai dengan cairan elektrolit
tersebut akan menghasilkan arus listrik DC (Direct Current). Adapun
reaksi kimia yang terjadi adalah sebagai berikut :
PbO2 + H2SO4 + Pb -----> Pb SO4 + H2O + PbSO4
PbO2  =  Timah peroksida
PbSO4 =  Sulfat Timah
H2SO4 =  Cairan Elektrolit
H2O  =  Air
Jika baterai telah digunakan dalam jangka waktu tertentu maka
arus listrik yang tersimpan di dalam baterai akan habis, oleh sebab itu
diperlukan sistem untuk melakukan pengisian kembali. Sistem pengisian
ini memanfaatkan arus dari kumparan yang terlebih dahulu disearahkan
dengan menggunakan penyearah arus yang disebut dengan Cuprok
(Rectifier).
Reaksi yang terjadi pada saat pengisian baterai adalah sebagai
berikut :
Pb SO4 + H2O + PbSO4 -----> PbO2 + H2SO4 + Pb







Pengaruh Tegangan Baterai pada Sistem Pengapian
Pada kehidupan sehari-hari kita sering membuat api yang
digunakan untuk membakar sesuatu, tentunya kita memerlukan sumber
api, seperti batu korek api yang digunakan untuk membakar gas dari
dalarn korek saat menyalakan rokok, kesempurnaan terbakarnya gas
dalam korek sangat tergantung pada seberapa besar batu korek api
dapat menghasilkan percikan api.
Gambaran sederhana di atas memiliki dasar yang sama dengan
pembakaran di dalam silinder motor bensin. Baterai adalah sumber api
utama pada sistem pengapian.
Kekuatan dari baterai dapat dinyatakan dengan tegangan (volt)
yang dimiliki, artinya kekuatan baterai sebagai sumber api tergantung dari
besar tegangannya. Lalu, bagaimana pengaruh tegangan baterai
terhadap besarnya bunga api?
Sebagai ilustrasi lebih jauh mengenai pengaruh besarnya
tegangan baterai terhadap sistem pengapian dapat kita amati dari kondisi
tegangan jaringan listrik rumah dari PLN. Malam hari saat kita
menyalakan beban listrik seperti setrika, kompor listrik, dan pompa air
bersama-sama sering jaringan listrik rumah jatuh/terputus, padahal pada
siang hari masih mampu hidup. Peristiwa ini menandakan bahwa
tegangan listrik rumah turun dari nilai semestinya. Pernahkah Anda
mengukur tegangan listrik dari PLN saat malam hari, dan
membandingkannya dengan pengukuran siang hari?
Tegangan tinggi yang terinduksikan pada koil pengapian
tergantung dari tegangan baterai, oleh karena itu baterai yang lemah
tidak dapat memproduksi kemagnetan yang kuat. Sedangkan tegangan
tinggi yang dapat diinduksikan bergantung pada kemagnetan yang terjadi
D. KUNCI KONTAK
Pada sistem pengapian, kunci kontak diperlukan untuk memutus-
hubungkan rangkaian tegangan baterai ke koil pengapian terminal
(15/IG/+) saat menghidupkan atau mematikan mesin.
 







Bila kunci kontak posisi (On/IG/15), maka arus dari baterai akan
mengalir ke terminal positif (+/15) koil pengapian, maka tegangan primer
sistem pengapian siap untuk bekerja.
E. IGNITION COIL (KOIL PENGAPIAN)
Untuk menghasilkan percikan, listrik harus melompat melewati
celah udara yang terdapat di antara dua elektroda pada busi. Karena
udara merupakan isolator (penghantar listrik yang jelek), tegangan yang
sangat tinggi dibutuhkan untuk mengatasi tahanan dari celah udara
tersebut, juga untuk mengatasi sistem itu sendiri dan seluruh komponen
sistem pengapian lainnya. Koil pengapian mengubah sumber tegangan
rendah dari baterai atau koil sumber (12 V) menjadi sumber tegangan
tinggi  (10 KV atau lebih) yang diperlukan untuk menghasilkan loncatan
bunga api yang kuat pada celah busi dalam sistem pengapian.
Pada koil pengapian, kumparan primer dan sekunder digulung
pada inti besi. Kumparan-kumparan ini akan menaikkan tegangan yang
diterima dari baterai menjadi tegangan yang sangat tinggi melalui induksi
elektromagnetik. Inti besi (core) dikelilingi kumparan yang terbuat dari
baja silicon tipis. Terdapat dua kumparan yaitu sekunder dan primer di
mana lilitan primer digulung oleh lilitan sekunder.
Untuk mencegah terjadinya hubungan singkat (short circuit) maka
antara lapisan kumparan disekat dengan kertas khusus yang mempunyai
tahanan sekat yang tinggi. Ujung kumparan primer dihubungkan dengan
terminal negatif primer, sedangkan ujung yang lainnya dihubungkan
dengan terminal positif primer. Kumparan sekunder dihubungkan dengan
cara serupa di mana salah satunya dihubungkan dengan kumparan
primer lewat (pada) terminal positif primer yang lainnya dihubungkan
dengan tegangan tinggi malalui suatu pagas dan keduanya digulung.







Medan magnet akan dibangkitkan pada saat arus mengalir pada
gulungan (kumparan) primer. Garis gaya magnet yang dibangkitkan pada
inti besin berlawanan dengan garis gaya magnet dalam kumparan primer.








Arus yang mengalir pada rangkaian primer tidak akan segera
mencapai maksimum, karena adanya perlawanan oleh induksi diri pada
kumparan primer. Diperlukan waktu agar arus maksimum pada rangkaian
primer dapat tercapai.
Bila arus mengalir dalam kumparan primer dan kemudian arus
tersebut diputuskan tiba-tiba, maka akan dibangkitkan tegangan dalam
kumparan primer berupa induksi sendiri sebesar 300 – 400 V,  searah
dengan arus yang mengalir sebelumnya. Arus ini kemudian mengalir dan
disimpan untuk sementara dalam kondensor. Apabila platina menutup
kembali maka muatan listrik yang ada dalam kondensor tersebut akan
mengalir ke rangkaian, sehingga arus primer segera menjadi penuh.







Jika dua kumparan disusun dalam satu garis (dalam satu inti besi)
dan arus yang mengalir kumparan primer dirubah (diputuskan), maka
akan terbangkitkan tegangan pada kumparan sekunder berupa induksi
sebesar 10 KV atau lebih. Arahnya berlawanan dengan garis gaya
magnet pada kumparan primer.







Pada saat kunci kontak di-on-kan, arus mengalir pada gulungan
primer (demikian juga saat kunci kontak off) garis gaya magnet yang
telah terbentuk tiba-tiba menghi-lang, akibatnya pada kum-paran
sekunder terbangkit tegangan tinggi.
Sebaliknya apabila kunci kontak dihubungkan kembali, maka
pada kumparan sekunder juga akan dibangkitkan tegangan dengan arah
yang berlawanan dengan pembentukan garis gaya magnet pada
kumparan primer (berlawanan dengan yang terjadi saat arus diputuskan).
Koil pengapian dapat membangkitkan tegangan tinggi apabila
arus primer tiba-tiba diputuskan dengan membuka platina. Hubungan
antara kumparan primer dan sekunder diperlihatkan pada diagram di
bawah ini.








Besarnya arus primer yang mengalir tidak segera mencapai
maksimum pada saat platina menutup, karena arus tidak segera mengalir
pada kumparan primer. Adanya tahanan dalam kumparan tersebut,
mengakibatkan perubahan garis gaya magnet yang terjadi juga secara
bertahap. Tegangan tinggi yang terinduksi pada kumparan sekunder juga
terjadi pada waktu yang sangat singkat.
Besamya tegangan yang dibangkitkan oleh kumparan sekunder
ditentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut:
1.  Banyaknya Garis Gaya Magnet
Semakin banyak garis gaya magnet yang terbentuk dalam
kumparan, semakin besar tegangan yang diinduksi.
2. Banyaknya Kumparan
Semakin banyak lilitan pada kumparan, semakin tinggi tegangan
yang diinduksikan.
3.  Perubahan Garis Gaya Magnet
Semakin cepat perubahan banyaknya garis gaya magnet yang
dibentuk pada kumparan, semakin tinggi tegangan yang
dibangkitkan kumparan sekunder.
Untuk memperbesar tegangan yang dibangkitkan pada kumparan
sekunder, maka arus yang masuk pada kumparan primer harus sebesar
mungkin dan pemutusan arus primer harus juga secepat mungkin.
1. Tipe Koil Pengapian
Terdapat tiga tipe utama koil pengapian yang umum digunakan
pada sepeda motor, yaitu:
a. Tipe Canister
Tipe ini mempunyai inti besi di bagian tengahnya dan kumparan
sekunder mengelilingi inti besi tersebut. Kumparan primernya
berada di sisi luar kumparan sekunder. Keseluruhan komponen
dirakit dalam satu rumah di logam canister. Kadang-kadang
canister diisi dengan oli (pelumas) untuk membantu meredam
panas yang dihasilkan koil. Kontsruksi tipe canister seperti terlihat
pada gambar 4.13 di bawah ini.
b. Tipe Moulded
Tipe moulded coil merupakan tipe yang sekarang umum
digunakan. Pada tipe ini inti besi di bagian tengahnya dikelilingi
oleh kumparan primer, sedangkan kumparan sekunder berada di
sisi luarnya. Keseluruhan komponen dirakit kemudian dibungkus
dalam resin (damar) supaya tahan terhadap getaran yang
biasanya ditemukan dalam sepeda motor.
Tipe moulded coil menjadi pilihan yang populer sebab
konstruksinya yang tahan dan kuat. Pada mesin multicylinder
(silinder banyak) biasanya satu coil melayani dua busi karena
mempunyai dua kabel tegangan tinggi dari kumparan sekunder.
c. Tipe Koil gabungan (menyatu) dengan tutup busi (spark plug)
Tipe koil ini merupakan tipe paling baru dan sering disebut
sebagai koil batang (stick coil). Ukuran besar dan beratnya lebih
kecil dibanding tipe moulded coil dan keuntungan palng besar
adalah koil ini tidak memerlukan kabel tegangan tinggi.
F. CONTACT BREAKER (PLATINA)
Platina pada sistem pengapian berfungsi untuk memutus-
hubungkan tegangan baterai ke kumparan primer. Platina bekerja seperti
switch (saklar) yang menyalurkan supply listrik ke kumparan primer koil
dan memutuskan aliran listrik untuk menghasilkan induksi. Pembukaan
dan penutupan platina digerakkan secara mekanis oleh cam/nok yang
menekan bagian tumit dari platina pada interval waktu yang ditentukan.
 
Pada saat poros berputar maka nok akan mendorong lengan
platina kearah kontak membuka dan selanjutnya apabila nok terus
berputar lebih jauh maka platina akan kembali pada posisi menutup
demikian seterusnya.
Pada waktu platina menutup, maka arus mengalir ke rangkaian
primer sehingga inti besi pada koil pengapian akan jadi magnet. Saat
platina membuka, maka kemagnetan inti besi akan hilang dengan tiba-
tiba. Kehilangan kemagnetan pada inti besi tersebut akan dapat
membangkitkan tegangan tinggi (induksi) pada kumparan sekunder.
Tegangan tinggi akan disalurkan ke busi, sehingga timbul loncatan bunga
api pada celah elektroda busi untuk membakar campuran bensin dan
udara pada akhir langkah kompresi.
Permukaan kontak platina dapat terbakar oleh percikan bunga api
tegangan tinggi yang dihasilkan oleh induksi diri pada kumparan primer,
oleh karena itu platina harus diperiksa dan diganti secara periodis.
Karena platina sangat penting untuk menentukan performa sistem
pengapian (konvensional), maka dalam pemeriksaannya perlu
memperhatikan hal-hal sebagai berikut;
1. Tahanan kontak platina
Oksidasi/kerak kotoran yang terjadi pada permukaan permukaan
platina akan semakin bertambah dan semakin buruk sebanding umur
pemakaiannya.Bertambahnya lapisan oksidasi membuat permukaan
platina semakin kasar/kotor dan memperbesar tahanannya, sehingga
aliran arus pada rangkaian primer koil menjadi berkurang.
Faktor-faktor di bawah ini menyebabkan tahanan kontak platina
semakin bertambah, yaitu:
a.  Gemuk Menempel pada Permukaan Celah Kontak
Jika bahan ini melekat pada kontak platina, maka kontak akan
bertambah hangus oleh loncatan bunga api, sehingga menambah
tahanan kontak. Oleh karena itu, pada saat mengganti kontak
platina harus diperhatikan agar oli atau gemuk tidak menempel
pada celah kotak.
Usahakan selalu membersih-kan celah kontak (air gap) saat akan
melakukan pemasangan.
a.  Titik Kontak Tidak Lurus
Gambar 4.17 Posisi atau kedudukan kontak platina
Posisi/kedudukan kontak platina sebaiknya seperti pada gambar
a. Kedudukan kontak platina yang salah seperti gambar b, c dan (D3)
dapat menyebabkan aliran arus pada rangkaian primer tidak optimal
sehingga mempengaruhi besarnya induksi yang dihasilkan koil pengapian
tersebut.
2. Celah Tumit Ebonit
Untuk menghindari aus yang terlalu cepat, sebaiknya beri gemuk
pada tumit ebonit tersebut. Jika tumit ebonit aus dapat menyebabkan
platina tidak bisa terbuka saat cam berputar sehingga sehingga tidak
akan terjadi loncatan bunga api dan mesin bisa mati.
3. Sudut Dwell 
Sudut pengapian merupakan sudut yang diperlukan untuk satu
kali pengapian pada satu silinder motor. Di mana secara detail dapat
diterangkan sebagai sudut putar nok/cam saat platina mulai membuka
sampai platina mulai membuka pada tonjolan nok/kam berikutnya
Gambar 4.19 Perbedaan sudut pengapian dengan sudut dwell
Berdasarkan gambar di samping, sudut dwell adalah lamanya
posisi platina dalam keadaan menutup. Oleh karena Dengan memperbesar
celah platina sudut dwell menjadi kecil, dan sebaliknya bila celah platina
diperkecil maka sudut dwell akan menjadi besar.
Sudut dwell yang terlalu besar dapat menyebabkan kemungkinan
percikan busi pada sistem pengapian terlambat, putaran mesin kasar,
tidak optimalnya fungsi kondenser, dan sebagainya. Sedangkan sudut
dwell yang terlalu kecil, dapat menyebabkan kemungkinan percikan
bunga api yang lemah/kecil, mesin overheating (mesin teralu panas),
performa mesin jelek dan sebagainya.
G. KONDENSOR
Saat arus primer mengalir akan terjadi hambatan pada arus
tersebut, hal ini disebabkan oleh induksi diri yang terjadi pada waktu arus
mengalir pada kumparan primer. Induksi diri tidak hanya terjadi pada
waktu arus primer mengalir, akan tetapi juga pada waktu arus primer
diputuskan oleh platina saat mulai membuka.
Pemutusan arus primer yang tiba-tiba pada waktu platina
membuka, menyebabkan bangkitnya tegangan tinggi sekitar 500 V pada
kumparan primer. Induksi diri tersebut, menyebabkan sehingga arus
prima tetap mengalir dalam bentuk bunga api pada celah kontak. Hal ini
terjadi karena gerakan pemutusan platina cenderung lebih lambat
dibanding gerakan aliran listrik yang ingin terus melanjutkan alirannya ke
masa/ground. Jika terjadi loncatan bungai api pada platina tersebut saat
platina mulai membuka, maka pemutusan arus primer tidak terjadi
dengan cepat, padahal tegangan yang dibangkitkan pada kumparan
sekunder naik bila pemutusan arus primer lebih cepat.
Untuk mencegah terjadinya loncatan bunga api pada platina
seperti percikan api pada busi, maka dipasang kondensor pada
rangkaian pengapian. Pada umumnya kondensor dipasang  (dirangkai)
secara paralel dengan platina.
Dengan adanya kondensor, maka induksi diri pada kumparan
primer yang terjadi waktu platina membuka, disimpan sementara pada
kondensor, sekaligus akan mempercepat pemutusan arus primer
Kemampuan dari suatu kondensor ditunjukkan oleh seberapa
sebesar kapasitasnya. Kapasitas kondensor diukur am satuan mikro
farad (ȝf), misalnya kapasitor dengan kapasitas 0,22 ȝf atau 0,25 ȝf. Agar
fungsi kondensor bisa benar-benar mencegah terbakarnya platina karena
adanya loncatan bunga api pada paltina tersebut,  maka kapasitas
kondensor harus sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan.
 H. BUSI
Tegangan tinggi yang dihasilkan oleh kumparan sekunder koil
pengapian, setelah melalui rangkaian tegangan tinggi akan dikeluarkan
diantara elektroda tengah (elektroda positif) dan elektroda sisi (elektroda
negatif) busi berupa percikan bunga api. Tujuan adanya busi dalam hal
ini adalah untuk mengalirkan pulsa atau arus tegangan tinggi dari tutup
(terminal) busi ke bagian elektroda tengah ke elektroda sisi melewati
celah udara dan kemudian berakhir ke masa (ground).
Busi merupakan bagian (komponen) sistem pengapian yang bisa
habis, dirancang untuk melakukan tugas dalam waktu tertentu dan harus
diganti dengan yang baru jika busi sudah aus atau terkikis.  
1.  Konstruksi busi
Bagian paling atas dari busi adalah terminal yang
menghubungkan kabel tegangan tinggi. Terminal ini berhubungan
dengan elektroda tengah yang biasanya terbuat dari campuran nikel agar
tahan terhadap panas dan elemen perusak dalam bahan bakar, dan
sering mempunyai inti tembaga untuk membantu membuang panas.  
Pada beberapa busi elektroda terbuat dari campuran perak,
platina, paladium atau emas. Busi-busi ini dirancang untuk memberikan
ketahanan terhadap erosi yang lebih besar serta bisa tetap bagus.

Elektroda tengah melewati isolator (penyekat) keramik yang
terdapat pada bagian luarnya. Isolator ini berfungsi untuk melindungi
elektroda tengah dari kebocoran listrik dan melindungi dari panas mesin.
Untuk mencegah kebocoran gas terdapat seal (perapat) antara elektroda
tengah dengan isolator dan antara isolator dengan bodi busi.
Bodi busi dibuat dari baja dan biasanya diberi pelat nikel untuk
mencegah korosi. Bagian atas luar bodi berbentuk hexagon (sudut segi
enam) yang berfungsi untuk mengeraskan (memasang) dan
mengendorkan (membuka) busi. Pada bagian bawahnya dibuat ulir agar
busi bisa disekrupkan (dipasang) ke kepala silinder. Pada bagian ujung
bawah busi terdapat elektroda sisi atau elektroda negatif. Elektroda ini
dilas ke bodi busi untuk jalur ke masa saat terjadi percikan.  
Terdapat dua tipe dudukan (seat) busi yaitu berbentuk datar dan
kerucut. Dudukan busi merupakan bagian dari bodi busi pada bagian atas
ulir yang akan bertemu/berpasangan dengan kepala silinder. Jika
dudukan businya berbentuk datar, maka terdapat cincin perapat (sealing
washer), sebaliknya jika dudukannya berbentuk kerucut maka tidak
memerlukan cincin perapat.  
Kemampuan dalam menghasilkan bunga api tergantung pada
beberapa faktor, antara lain sebagai berikut:
a.  Bentuk elektroda busi
Elektroda busi yang bulat akan mempersulit lompatan bunga api
sedangkan bentuk persegi dan runcing dan tajam akan
mempermudah loncatan api. Elektroda tengah busi akan
membulat setelah dipakai dalam waktu lama, oleh karena itu
loncatan bunga api akan menjadi lemah dan menyebabkan
terjadinya kesalahan pengapian, sebaliknya elektroda yang tipis
atau tajam akan mempermudah percikan bunga api, akan tetapi
umur penggunaannya menjadi pendek karena lebih cepat aus
b. Celah Busi
Bila celah elektroda busi lebih besar, bunga api akan menjadi sulit
melompat dan tegangan sekunder yang diperlukan untuk itu akan
naik.Bila elektroda busi telah aus, berarti celahnya bertambah,
loncatan bunga api menjadi lebih sulit sehingg akan
menyebabkan terjadinya kesalahan pengapian.  
Categories: Motor